Mengenai Saya

Foto saya
Tweet and blog too much. Heart movies, novels, and English Literature. In relationship w/ homework.

The House - Prolog


Ada sebuah jalan yang selalu kulalui saat berangkat kuliah. Pohon-pohon rindang memenuhi sisi jalan itu dan rumah-rumah mewah yang kebanyakan bergaya Belanda berjejer disana. Aku suka ketika lewat sana. Tenang, sejuk, dan rumahnya unik-unik.
Saat baru beberapa kali lewat sana, aku agak susah menghafalkan rumah-rumah itu. Semuanya terlihat sama. Halaman luas, bentuk teras yang membulat, garasi di sebelah kanan dan berpagar rendah. Aku terbius pesona rumah-rumah itu sehingga tak sempat untuk memikirkan hal lain. Sampai akhirnya aku menemukan rumah favoritku sendiri.
Rumah itu ada disebelah kanan, rumah ketiga dari sebuah proyek yang tak selesai, sebelum sebuah pusat bimbingan bahasa Inggris dan rumah itu berbeda. Alih-alih bergaya Belanda atau Eropa, rumah itu bergaya modern minimalis. Pagar tingginya berupa tiang-tiang silver yang berjajar, mengelilingi rumah. Dindingnya dilapisi bahan kayu berwarna coklat terang. Jalan menurun menuju garasi ada disebelah kanan dan kiri rumah itu. Ada sebuah pos satpam menandakan orang yang disana pastilah sangat tinggi derajatnya. Didekat pagar disusun berbagai bunga mekar di dalam pot. Bagian dalamnya pasti lebih unik lagi.
Setiap melihat rumah itu aku selalu berpikir, rumah masa depanku harus seperti ini!
Untuk melihat rumah itu, aku sengaja naik angkutan umum satu-satunya yang lewat sana. Memfokuskan mata. Menghentikan setiap aktivitas, entah membalaskan sms, menjawab telepon, menutup buku bahan ujian, atau apapun itu. Setelah melewatin rumah itu, aku merasa makin menginginkan rumah itu. Ingin rasanya aku turun, memencet bel, memohon-mohon satpam yang sedang berjaga, membuka pintu depan dan masuk.
Kira-kira siapa yang ada didalam sana? Selain satpam, aku tak pernah melihat siapapun tampak di rumah itu. Apa pemiliknya terlalu sibuk untuk menikmati waktu santai di rumah itu? Atau malahan rumah itu kosong dan hanya ditempati saat liburan panjang? Aku marah seketika. Seenaknya saja mereka. Mereka mungkin punya rumah-rumah lain yang lebih mewah tapi aku terlanjur jatuh cinta dengan rumah ini. Bisakah mereka memberikannya padaku?
Ku tumpuk keberanianku dan turun di depan rumah itu pada suatu pagi. Ku dekati pagar itu. Satpam yang biasa berjaga disana tak tampak, tapi TV yang ada di posnya menyala. Mungkin dia sedang membuat kopi di dalam atau apa. Maka ku sapa saja mawar-mawar yang masih basah dengan embun. Aku agak gegabah sehingga durinya melukai jariku hingga berdarah. Aku hanya tersenyum. Aku tak mungkin marah pada rumah masa depanku.
Ku tempelkan jari berdarahku itu pada salah satu tiang pagar. Darahku sekarang menempel disana, disalah satu bagian rumah itu. Akan ku beri cap darah di bagian lain rumah ini dan kemudian semuanya akan jadi milikku. Tunggu saja.

My super private room
October 28, 2010
5.23 pm 
Share:

Posting Komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes