Mengenai Saya

Foto saya
Tweet and blog too much. Heart movies, novels, and English Literature. In relationship w/ homework.

First Sight First Meet First Message


Jam 11.00
Rena mulai terlihat tak tenang. Tangannya yang sedang menorehkan warna pada kanvas sedikit bergetar. Sekilas, matanya melirik jam dinding yang tergantung di depan kelas.

Jam 11.15
Indah, teman sebangku Rena akhirnya menyadari ada yang aneh. Dia mengamati temannya yang sedang mengores-goreskan kuas ke kanvas. Tak ada yang beda dengan caranya, tapi kanvas tersebut bisa dibilang masih polos. Hanya ada satu warna yaitu merah. Indah heran. Padahal jam pelajaran Seni Rupa sudah berjalan lebih dari sejam.

Jam 11.30
Kegelisahan makin terpancar di wajah Rena. Kanvas, jam dan luar kelas adalah 3 hal yang makin sering ia perhatikan. Tangan bergetarnya mulai berkeringat. Indah jadi cemas dan mengusap punggung Rena untuk menenangkannya.
” Kenapa?” tanya Indah dengan tatapan iba
” Indah . . .” suara Rena seperti tercekat

Jam 11.35
” Apaan? Kamu sakit? Kamu keliatan aneh loh dari tadi” Indah yang sedikit keibuan, menyentuh kening Rena untuk sekedar memastikan ” Ada masalah?”
Rena mengangguk pelan dan sempat melirik jam
” Cerita dong” pinta Indah
Terlihat, Rena mengigit tepi bibirnya dan ekspresinya seperti anak kecil.
” Dah . . .” Rena akhirnya buka suara ” Sandy minta ketemuan sama aku”

Jam 11.40
Indah jelas kaget, tapi dia juga terlihat senang.
” Wah? Serius? Bagus dong! Kapan?” Rena malah terlihat makin gelisah mendengar rentetan pertanyaan dari Indah itu.
” Hari ini, istirahat kedua, dan itu berarti . . .” Rena melirik jam lagi dan memandang Indah
” Lima menit lagi!” sahut mereka bersamaan
” Gimana dong?” tanya Rena bingung ” Aku takut . . .”
” Takut apa?”
” Aku nanti harus gimana? Ngomongin apa?”

Jam 11.45
Teet! Teet! Teet!
Bunyi bel tanda istirahat kedua itu seakan membangunkan Rena. Kanvas yang masih termasuk polos itu akhirnya disimpannya. Tangannya jadi sedingin es. Setidaknya itu yang dirasakan Indah saat memegang lengan Rena.
” Indah, aku gak tau harus gimana . . .”
” Tenang, Ren” tangan Indah mengulur membuat Rena mengangkat alis ” Sekarang coba kamu latihan salaman sama aku. Anggap aja aku itu Kak Sandy”
” Ah, gak mau!” tolak Rena cepat ” Kayak yang mau ngapain aja”
Bu Aulia, guru Seni Rupa mengucapkan salam sebelum keluar kelas. Begitu beliau sudah keluar, semua anak kelas XI IPS 1 mulai berhamburan.Tinggallah Rena dan Indah.
” Ren, ayo keluar” ajak Indah yang sudah bangkit dari kursinya ” Katanya mau kenalan sama Kak Sandy”
Rena menggeleng cepat dan tetap bersikukuh duduk. Saat itu juga Gadis, teman mereka yang beda kelas datang dengan sebuah buku dalam ganggamannya.
” Eh, Gadis!” seru Indah saat melihat temannya itu
” Hei,” balas Gadis. Dia lalu mengulurkan buku itu ” Makasih bukunya, ya”
” Wah, kebetulan!” Indah menerima buku itu ” Ren, ini kebetulan ada buku panduan buat dapetin cowok dalam waktu 3 bulan. Ada tips and trick buat kenalan juga loh!” tambah Indah dengan setengah promosi.
Rena tidak mengacuhkannya. Matanya terus tertuju pada jam dinding yang detaknya jelas terdengar lantaran kelas sedang kosong. Di luar beberapa anak cewek  berlarian dan bermain dengan kuas dan cat sisa pelajaran Seni Rupa.
” Si Rena mau kenalan?” tanya Gadis ” Sama siapa?”
” Sama Kak Sandy dong?” jawab Indah bersemangat
” Kak Sandy? Kelas 3?” tanya Gadis lagi
” Iya” Indah makin bersemangat saja ” Akhirnya setelah satu semester cuma ngeliatin dari jauh, dia minta kenalan sama Rena dong”
” Wah?” Gadis tampak tak percaya ” Hebat! Kak Sandynya sendiri yang minta kenalan sama kamu?”
” Nggak juga” jawa Rena sambil menggeleng pelan ” Dicomblangin gitu. Akukan punya kenalan kelas 3, namanya Sharina, trus Sharina itu cerita ke Sandy kalo aku ngeceng dia. Diceritain dong semuanya! Akhirnya Sandy pengen diketemuin sama aku . . .”
Kata-kata Rena terhenti begitu melihat Kak Anty, kakak kelas yang menyusun rencana ketemuannya Rena dan Sandy melintas. Wajahnya terlihat sangat lega melihat Rena ada didalam kelasnya. Sharina memang nyerahkan acara kenalan ini ke Kak Anty yang lebih dekat dengan Sandy.
” Hei!” serunya sambil masuk kekelas Rena ” Anty cari dari tadi. Sandy udah nunggu tuh”
Rena menggeleng sekuat tenaga dengan muka agak memerah. Entah mengapa , mendadak ia merasa takut.
”Kenapa? Si Sandy dari tadi nanyain terus tau. Dia penasaran banget sama kamu. Tadi aja dia bolak-balik kekelas Anty” Kak Anty melirik handphone yang ada digenggamannya. Walau bukan Rena yang mengenggamnya, dia bisa merasakan ada getaran pelan.
” Tuh, kayaknya Kak Sandynya udah ngasih sinyal positif tuh” kata Indah senang ” Ayo, ketemuan aja”
Sekali lagi, Rena menggeleng. Ia memang ingin, tapi bagaimana kalau ia bukan seperti yang Sandy harapkan. Sandy pasti mikir yang macem-macem saat tahu ada yang suka sama dia. Dan begitu melihat Rena . . .
” Si Sandy ngeSMS nih. Dia nanyain ketemuannya dimana” ucap Kak Anty sambil menyimpan kembali handphonenya ” Aku ajak Sandy kesini ya. Kamu jangan kemana-mana. Awas loh!”
Kak Anty keluar kelas dan Rena mengikutinya tapi ia malah belok ke WC. Indah dan Gadis sadar Rena mau melarikan diri, langsung menahannya.
” Ren, mau kemana kamu?” tanya Indah sambil mencekal lengan Rena
” Ke WC!” jawab Rena sambil mencoba melepaskan lengannya ” Tangan aku kotor sama cat. Masa kenalan pake tangan kayak gini?”
” Oh, bener juga ya!” Indah dan Gadis akhirnya melepaskan tangan Rena begitu mendengar alasan itu.
Rena memang ingin mencuci tangannya yang belepotan akan cat. Itu sekaligus cara untuk dia melarikan diri. Rencananya ia akan mencari keran yang paling jauh, biar Kak Anty dan mungkin Sandy tidak bisa menemukannya. Tapi, Indah dan Gadis mengikutinya, membuatnya mati kutu.
” Kenapa ngikutin segala sih?” tanya Rena kesal. Ia mengosok-gosok cat ditangannya perlahan-lahan. Itu agar bersihnya maksimal, sekaligus menghabiskan waktu.
” Biarin lah” sahut Gadis ” Aku pengen tau yang namanya Sandy itu kayak gimana”
” Hei, ketemuannya kan gak di WC juga kali” balas Rena dan meneruskan mencuci tangannya sambil berharap acara kenalan itu gak jadi. Tapi apa daya, ketika Rena beserta Indah dan Gadis kembali dari WC, Kak Anty dan seorang cowok sudah menanti di depan mading. Cowok itu jelas Sandy!
Begitu melihatnya, langkah Rena otomatis tertahan bahkan sudah hampir kabur. Untung Kak Anty dengan sigap langsung menahannya.
” Ren, mau kemana?” tanya Kak Anty
Rena tidak menjawab pertanyaan itu. Dia juga berusaha menahan rasa perih di lengannya hasil dari cengkraman Kak Anty. Dia yakin wajahnya pasti sangat merah.
” Nih, Sandynya udah dateng. Kenalan dong” lanjut Kak Anty.
Rena berusaha kabur dari sana, tapi Kak Anty sangat kuat menahan lengannya. Sakit dan terasa panas, tapi Rena yakin lengannya itu tak semerah wajahnya.
” Rena, ayo” kata Kak Anty lagi. Dia mencoba menarik Rena lebih dekat ke tempat Sandy berdiri.
” Nggak mau . . .” kata Rena. Dia yakin beberapa jam kemudian dia akan menyesali kata-katanya itu. Tapi hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
” Kamu kenapa sih?” tanya Kak Anty
Rena melirik sebentar. Dia bisa melihat Sandy memandangnya dengan bingung, sedangkan Indah dan Gadis menonton tak jauh dari situ. Uugh, keluh Rena pelan dalam hati.
” Rena!” kini Kak Anty menariknya lebih kuat. Badan Rena yang kecil pun berhasil tertarik mendekati posisi Sandy lebih dekat. Dia otomatis panik.
” Nggak mau! Nggak mau! Nggak mau!”
Suara Rena itu tertelan di tengah hiruk pikuknya istirahat kedua. Tapi tetap saja orang-orang yang lewat sekilas menoleh padanya. Tempat mereka memang sangat strategis, dekat dengan semua fasilitas sekolah, ya WC, mading, lapangan, dan ruang guru. Untung tidak ada guru yang lewat untuk saat itu.
” Kamu mau gak sih?”
Mauu! Jawab Rena dalam hati. Tapi jawabannya itu bertolak belakang dengan perilakunya. Rena masih berusaha kabur sambil menutupi wajahnya yang membara.
” Kamu nangis?” tanya Kak Anty
” Nggak!” jawab Rena cepat. Rena heran kenapa Kak Anty bisa berpikiran seperti itu walau sebenarnya dia memang ingin nangis, tapi itu akan semakin mempermalukan dirinya, Kak Anty dan Sandy yang masih menunggu dengan sabar.
Seorang cowok menghampiri Sandy dan membicarakan sesuatu. Kak Anty yang sepertinya mengenal cowok itu ikut mendengarkan. Kesempatan itu tak disia-siakan Rena. Dia langsung menarik lengannya dan menjauh, sedikit lebih dekat dengan pintu kelasnya yang terbuka lebar.
” Aku harus ke ruang guru” sayup-sayup itulah kalimat yang Rena dengar dari mulut Sandy. Ternyata memang benar, dan cowok itu melangkah menuju ruang guru.
Kak Anty menghela nafas dan menatap Rena dengan tajam.
” Gagal, kan?”
Setelah itu Kak Anty pergi. Rena kaget karena selama ini Kak Anty tidak pernah semarah itu. Indah dan Gadis tiba-tiba saja ada di samping Rena yang berjalan ke dalam kelas.
” Ren, sayang banget tuh” komentar Gadis
” Iya!” Indah mengangguk ” Kak Sandy sabar banget nungguin kamu jejeritan tadi”
Rena ingin sekali membalas semua itu. tapi mereka memang benar. Dia memilih duduk dan menutupi wajahnya yang masih terasa panas. Sudahlah, hibur Rena pada dirinya sendiri. Setelah menghibur dirinya sendiri, Rena berharap dia akan lebih baik, tapi kenyataannya berbeda.
Sementara Indah dan Gadis sibuk bercerita tentang kejadian tadi ke semua orang yang ada di kelas. Rena semakin malu saja. Apalagi anak-anak cowok ikut mendengarkan dengan asyik.
” Ren, kamu udah dapet hasil TOEFL?” tanya Hani yang baru datang dan tidak tahu tentang apa yang sedang orang-orang bicarakan.
” Belum . .” jawab Rena pelan.
” Ambil dong di ruang guru. Sekalian ambilin yang aku juga ya” pinta Hani
Deg! Rena langsung ingat dengan alasan Sandy pergi dari acara kenalan tadi. Rena tidak bisa membayangkan akan bertemu Sandy lagi di ruang guru. Disana dia tidak bisa menghindar. Kalau menjerit lagi, kemungkinan nilainya akan jadi korban. Tapi di lain sisi, dia juga ingin ketemu. Ini mungkin kesempatan kedua untuk menebus kesalahan tadi.
” Mau kemana?” tanya Indah begitu melihat Rena berdiri sambil membawa handphonenya.
” Ng, ke ruang guru ngambil hasil TOEFL ” jawab Rena ragu. Ternyata Indah tidak ingat bahwa Sandy melakukan hal yang sama tadi. Dia kembali bercerita tapi dengan topik yang berbeda.
Rena melangkah ke luar kelas dengan was-was. Makin was-was saat di melewati mading dan akhirnya sampai di pintu ruang guru. Tapi Sandy tidak ada disana. Sedikit kecewa juga. Rena mengambil hasil TOEFLnya dan ketiga teman yang lain.
Handphonenya bergetar tanda ada panggilan masuk. Rena agak takut mengeceknya karena ini ruang guru. Dia hanya melihat sekilas nomor yang tampil. Dua belas deretan nomor itu tidak dikenalnya. Tak lama kemudian panggilan itu berhenti. Rena menyimpan handphonenya dan kembali ke kelas.
Rena melirik ke barisan ruang kelas tiga yang ada diseberang lapangan. Disana ada Sharina yang sedang mengobrol dengan Sandy. Rena otomatis kaget, apalagi saat Sharina menunjuknya dan Sandy ikut menoleh. Rena langsung masuk kelas dan tidak berani untuk melihat kebelakang.
” Cepet banget, Ren” sambut Hani dan langsung menyambar lembaran kertas yang di pegang Rena.
” Coba liat berapa hasilnya” sahut teman-teman yang lain dan mulai mengikuti Hani dan hasil TOEFL.
Rena baru mau mengambil punyanya saat tiba-tiba sebuah SMS masuk. Nomor yang tadi, pikir Rena dan membaca isi SMS itu.
” Dari Sandy!” tak sadar, Rena meneriakkan kekagetannya itu.
” SMS dari Sandy?” Indah langsung menoleh.
Orang-orang yang asalnya berkumpul dengan Hani langsung pindah haluan menuju Rena. Mereka pasti sudah denger cerita lengkapnya dari Indah.
” Liat dong” Indah dan yang lainnya berebut mengambil handphone Rena.
” Entar dulu” balas Rena ” Aku juga belum baca semua” Rena kembali melirik isi SMS itu.

Jdi kmu y,,yg nma’y rena tea,,
slam knal az yawz,,n_n
-sandy- (xii sos 1)

21/02/08 12:16

Rena membaca ulang isi SMS berkali-kali saking tidak percayanya. Tapi tiba-tiba saja handphonenya mati.

260909~
Share:

Posting Komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes