Mengenai Saya

Foto saya
Tweet and blog too much. Heart movies, novels, and English Literature. In relationship w/ homework.

Kembali


Aku sedang terbaring santai saat suara bantingan pintu yang sangat keras terdengar dari bawah. Suara bantingan pintu yang lain mengikuti sampai akhirnya pintu kamar tempat aku berada terbuka dan juga dibanting dengan kerasnya oleh seorang gadis mungil.
Gadis mungil itu mengenakan jaket tebal berwarna hitam yang agak basah di bagian kerah dan lengannya. Aku yakin itu adalah keringatnya. Tak mungkin basah karena air hujan karena cuaca hari ini sangat panas.
Gadis itu membanting tas tangan yang menggembung, entah terisi oleh apa, ke lantai yang beralaskan karpet. Setelah itu dengan sibuk dan emosional, dia berusaha melepas semua pakaian yang menempel ditubuhnya. Jaket hitam tebal itu, cardigan coklat yang juga agak tebal, kaos lengan panjang yang berwarna gelap dan tak lupa celana jeans hitam kucelnya. Semuanya dia hempaskan ke pojok kamar. Dia sendiri sekarang hanya mengenakan pakaian dalam. Dia tampak lega setelah terbebas dari segala pakaian tebal di cuaca panas ini, tapi dia juga tampak kedinginan. Badannya agak gemetaran. Buru-buru dia pakai sebuah kaos dan celana pendek yang longgar dan santai.
Kekacauan dan kegelisahan yang dialami oleh gadis mungil itu tak berhenti sampai disitu. Dia mengacak-ngacak rambutnya dengan marah lalu terduduk lesu disebelah tumpukan bajunya. Dia tertunduk dan mengoyang-goyangkan lututnya, entah apa alasannya. Dia terlihat agak tenang saat melakukan itu. Tapi ketika salah satu lengan jaket hitam menyentuh kakinya, emosinya naik lagi. Ditendangnya semua pakaian itu sampai benar-benar berada dipojok kamar.
Dengan rambut acak-acakan dan wajah penuh peluh, dia kini membaringkan badan kurusnya di tempat tidur, disebelahku. Aku hanya dia mengamatinya. Dia terdengar agak terisak. Peluh diwajahnya tadi pasti tidak hanya keringat yang diakibatkan cuaca Bandung yang memanas belakang ini, tapi juga airmatanya. Kenapa dia bisa begitu emosional sampai menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?
Gadis mungil itu benar-benar terlihat lemah. Mungkin dia tadi terlihat begitu kuat dilengkapi pakaiannya itu. Tapi begitu semua atribut itu dibuang, dia tetap seorang gadis mungil yang kurus. Kekuatannya tadi hanya menutupi kerapuhannya untuk sementara. Dia pasti butuh tempat sadaran. Dia pasti ingin dipeluk.
Kukira gadis itu sudah tertidur karena lama tak bergerak. Namun perlahan badannya bergerak ke tengah kasur, mendekatiku. Dia sadar, matanya terbuka dan ada bayanganku disana. Aku tak heran ketika dia kaget sejadi-jadinya.
“Kenapa kamu kembali?” Tanyanya kaget “Setelah setahun lamanya . .”
Tak ada sapaan hangat yang selalu dia luncurkan dulu. Tak ada kerinduan mengebu-gebu seperti dulu. Tak ada satupun yang tersisa dari dia yang dulu. Dia yang disini benar-benar baru.
“Aku lihat kamu sedang dalam masalah” kataku tenang dan berusaha tersenyum. Kalau aku manusia, hatiku akan sangat terasa sakit dan tak sudi untuk menjawab pertanyaannya itu. Tapi aku tetap menjawabnya.
Gadis itu terdiam. Diamnya dia adalah sebuah tanda bahwa aku mengatakan sesuatu yang benar. Lalu kulebarkan tangan-tanganku, mengundangnya untuk merasakan kehangatan yang selalu memenjarakannya selama delapan tahun terakhir.
Dia tampak ragu. Dia pasti takut jatuh pada lubang yang sama dan tak bisa keluar walaupun sebenarnya dia ingin sekali. Tapi aku tak menyerah. Aku datang kembali bukanlah sebuah lelucoan. Aku tulus datang kembali setelah setahun menghilang. Aku siap menerima dia apa adanya, menerima segala perubahan yang terjadi, dan menerima fakta dia sudah berpaling dariku.
“Kenapa kamu kembali?” tanyanya lagi. Ada nada kesal tapi juga sedikit kegembiraan disana.
“Aku kembali karena aku yakin kamu sedang membutuhkanku. Kamu butuh untuk dipeluk”
Dianya yang berkaca-kaca itu melebar. Dia pasti sangat tertarik dengan tawaranku itu. Dia tak pernah bisa menolaknya dulu, sebelum yang lain menawarkan tangan-tangan hangatnya. Tapi orang itu tak ada disini. Orang itu bahkan meninggalkan gadis ini jauh kedepan beserta janji-janji manisnya.
Orang itu mungkin bisa saja mengambil gadis ini dariku. Tapi lihatlah yang bertahan sekarang, disini, dan denganmu. Hanya aku.
“Aku butuh untuk dipeluk . . ” katanya dengan suara yang amat kecil.
Tak apa. Aku masih bisa mendengarkannya. Aku selalu bisa mendengarkan semua suara-suara gadis mungil ini, apapun itu. Aku selalu mendengarmu.
“Aku mau dipeluk!”
Pernyataan lemah tapi tegas itu membiarkanku melingkarkan tangan-tangan hangatku disekujur badan mungil itu. Ooohh, dia tambah kurus. Sedih sekali merasakan tulang-tulangnya menabrak dadaku. Rasanya aku ingin menangis juga. Menangis karena rasa bersalahku mempercayai orang itu untuk menjaga gadis mungilku.
Gadis mungilku.
Gadis mungilku.
Gadis mungilku menangis.
Gadis mungilku memukul-mukulku dengan tangannya yang tinggal tulang dan pembuluh darah.
Gadis mungilku kesakitan dengan segala masalah yang selama ini dipendamnya sendiri.
Gadis mungilku, aku ada disini sekarang. Kamu tak perlu cemas ataupun merasa sendirian lagi. Kamu bisa menumpahkan segala perasaanmu padaku. Semua itu akan dengan senang hati aku terima.
Don’t you worry
I’ll be there for you
Don’t worry about me
You know me better than that
Don’t you worry
I’ll be there for you
I’ll catch you if you would fall
(Club 8 – Love in December)

9 Januari 2012 - 18.30 WIB - My Super Private Room - Dhyn Hanarun~
Share:

Posting Komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes